Awas Karat Tak Terpantau di Peredam Bawah Mobil

X RIDE_3

22141235_10210384736481675_6087339421502098440_n

Assalamualikum

Perawatan mobil memang tidak melulu soal kinclongnya cat dan bersihnya jok. Atau mungkin interior yang wangi dan bersih. Ada beberapa hal yang sering terlupa bahkan mungkin bisa dibilang diabaikan. Salah satunya karat pada sasis.

Karat memang gampang menyerang pada mobil, terutama bagian yang jarang terpantau dan sering terkena air. Salah satunya adalah mobil Suzuki APV berikut. Di mana, pada bagian bawah sasis yaitu bagian bawah yang tertutup oleh peredam kabin ternyata telah berkarat dan berlubang.

Muncul spekulasi, hal ini terjadi pada mobil catering. Di mana campuran sayur dan kuahnya mengandung garam, yang sama korosifnya dengan air laut dan air hujan. Untuk mencegahnya tentu dengan selalu membersihkan bagian bawah saat mencuci mobil. Pada bagian interior jangan cuma dilap. Dicek betul sisa air yang ada di beberapa celah. Tapi, memang aktivitas ini melelahkan.

Solusinya adalah dikerok karatnya, kemudian di las ulang dan dipasang lagi peredamnya (diganti baru juga bisa). Jangan lupa dicat anti karat. Terjadinya karat pada bagian ini sebetulnya bisa ditakar berapa tahun bakal terjadi. Namun, semuanya juga tergantung geografis. Yang paling menentukan adalah perlakuan si pemilik.

Nah, fenomena Korosi / Teyengen kalau istilah Jawa adalah

1. Konsentrasi H2O dan O2 – Dalam kondisi kelembaban yang lebih tinggi, besi akan lebih cepat berkarat. Selain itu, dalam air yang kadar oksigen terlarutnya lebih tinggi, perkaratan juga akan lebih cepat. Hal ini sebagaimana air dan oksigen masing-masing berperan sebagai medium terjadinya korosi dan agen pengoksidasi besi.

2. pH – Pada suasana yang lebih asam, pH < 7, reaksi korosi besi akan lebih cepat, sebagaimana reaksi reduksi oksigen dalam suasana asam lebih spontan yang ditandai dengan potensial reduksinya lebih besar dibanding dalam suasana netral ataupun basa.

3. Keberadaan elektrolit – Keberadaan elektrolit seperti garam NaCl pada medium korosi akan mempercepat terjadinya korosi, sebagaimana ion-ion elektrolit membantu menghantarkan elektron-elektron bebas yang terlepas dari reaksi oksidasi di daerah anode kepada reaksi reduksi pada daerah katode.

4. Suhu – Semakin tinggi suhu, semakin cepat korosi terjadi. Hal ini sebagaimana laju reaksi kimia meningkat seiring bertambahnya suhu.

5. Galvanic coupling – Bila besi terhubung atau menempel pada logam lain yang kurang reaktif (tidak mudah teroksidasi, potensial reduksi lebih positif), maka akan timbul beda potensial yang menyebabkan terjadinya aliran elektron dari besi (anode) ke logam kurang reaktif (katode). Hal ini menyebabkan besi akan lebih cepat mengalami korosi dibandingkan tanpa keberadaan logam kurang reaktif. Efek ini disebut juga dengan efek galvanic coupling.

Referensi : Aan ( facebook.com/aanpencxeng )

Nah, bagaimana Brosis? Segera cek bagian peredam jika brosis belum pernah cek atau mungkin kurang detail merawat mobil. Atau mungkin punya usaha catering yang super sibuk.

3A330F33E0FDB54C8C27690583FBA366

Dikirim dari Lenovo Ndeso 94 TAB 2 Android.

Kategori sama :

Artikel Terbaru :

 

Iklan

Tentang Bro Ndes 94

Seseorang yang mempunayi hobi menulis, membaca, dan mencari ilmu baru. Tak ada paksaan dalam menulis, karena menulis itu seperti mengalir. Jika terbiasa maka kita akan kecanduan. #Poko'e_Joget#
Pos ini dipublikasikan di Tips Oto dan tag , , , , . Tandai permalink.

Mohon di komentari, kritik dan saran. Yuk diskusi bareng :-) Jika komen anda masuk spam hubungi admin

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s