“OM TELOLET OM” – Berawal dari sebuah pencarian kegembiaraan yang kemudian mendunia… Pro dan Kontra, lengkap! – karena bahagia itu sederhana

Assalamualaikum

Brosis,  fenomena klakson Bus asal Indonesia yaitu  TELOLET lagi fenomenal. Berawal dari para Mania(k) Bus yang suka memotret bus di Pantura. Kemudian Viral di sosmed karena video yang dishare tentang aktivitas unik ini. Trend ini sudah berjalan lebih dari 6 tahun. Baru baru ini lagi ngetrend sekali karena fenomena ini kemudian yang awalnya anak kecil, menjalar ke orang dewasa. Kemudian viral di sosial media hingga akhirnya para musisi EDM Luar negeri tertarik dan menshare kata “Om Telolet Om”. Yah, walau tetap saja fenomena ini jadi sorotan bahkan larangan dari Kemenhub. Hiburan murah meriah hasil dari para mania(k) dan sopir bus berklakson telolet. Mari kita bahas fenomena ini.

Darimana awal mula Telolet? Siapa yang jadi trendsetter awal atas kegaduhan ini?

Bunyi klakson telolet sudah mulai terdengar satu dekade lalu. Klakson itu tidak spesifik dimiliki oleh jenis bus tertentu, melainkan hasil modifikasi yang dilakukan perusahan otobus (PO). Ingat, modifikasi. Biasanya ada beberapa modul suara dan beberapa corong dengan berbeda suara. Semuanya tipe corong angin. Dengan memakai modul dan beberapa tombol khusus untuk membunyikannya. Suara bisa dibuat sedemikian rupa sesuai keinginan melalui modul seperti nada dering monophonic ponsel, lagu-lagunya ondel-ondel, lagunya ‘Jablay’ Titi Kamal yang sempat heboh oleh bus Garuda Mas.

Busmania, sebagai salah satu komunitas pecinta bus mengklaim kebiasaan meminta klakson itu dimulai dari kebiasaan para penggemar bus yang sering memotret bus. Sebagai balasan, supir bis biasanya kasih dim atau kasih klakson. Awalnya sih toott, teett,, tttiiiitt,,, klakson standartlah.

Salah satu PO yang jadi The First Mover Telolet adalah Efisiensi. Bersumber dari BBC.COM, bro ndess mengutip salah satu pernyataan sang manajer komersil PO EFISIENSI yaitu Syukron Wahyudi. Beliau menceritakan bahwa sekitar 10 tahun lalu pemiliknya, Teuku Eri Rubiansah, pergi ke Arab Saudi dan mendengar bunyi klakson yang unik.

“Mendengar suara klakson di sana berbeda, dia memutuskan membeli untuk bisnya. Khususnya di bus reguler dari Cilacap Jogja, Purwokerto – Jogja, dan Purbalingga – Jogja.”

Tapi awalnya klakson ini ternyata malah direspons negatif karena suaranya yang dinilai terlalu keras. Sampai-sampai, pihak PO meminta sopir-sopir mereka tidak membunyikan klakson itu di tempat-tempat tertentu karena masyarakat tidak terima dengan bunyi itu, cerita Syukron. Nah, brosis gimana? Berbeda dengan sekarang. Awalnya nih klakson ditolak di beberapa tempat, karena efek negatifnya.

“Mulai disukai tiga empat tahun terakhir karena mulai banyak PO-PO yang juga menggunakan. Di beberapa daerah tertentu malah orang-orang minta klaksonnya dibunyikan. Kita merasa bangga juga, karena bisa dibilang kita yang pertama yang pakai klakson tiga corong.”

Seorang teman blogger bro ndess yaitu Munif, Manajer sebuah perusahaan air minum di Pacet menuliskan analisanya di sosial media :

Indonesia dikenal Dunia lewat “Telolet”

Bukan prestasi politik dan bukan pula kebudayaan kuno yang bikin semua orang didunia mengenal Indonesia, melainkan satu jenis suara khas klakson bus yang berbunyi sedemikian rupa “telolet”.

Sebuah fenomena yang sangat langka dan terjadi di akhir tahun 2016 ini. Semua orang dunia lewat media social membicarakan #telolet. Iya bagi kita yang sudsh lama tinggal di Indonesia dan sering menggunahkan angkutan bus, maka bunyi telolet akan sangat famikiar ditelinga kita beberapa puluh tahun yang lalu. Buyi khas klakson bus ini sebenarnya biasa saja. Namun kenapa sekarang menjadi sangat luar biasa?

Pertama, ketika kita mengucapkan kata telolet, maka sebenarnya mulut kita akan membentuk sebuah aktifitas yang lucu. Kalo gak percaya, coba kalian mengahadap ke kaca dan ucapkan telolet. Maka ada gerakan unik pada bibir anda. Ada semacam joki yang membikin asik.

Telolet membuat kita semua bahagia lepas. Kita tidak memikirkan apa yang telah terjadi dan akan terjadi. Seperti aktifitas sekumpulan anak sekolah yang menunggu bus lewat dan biang om telolet om… Kemudian aktifitas dilanjutkan oleh supir bus yang menekan kelakson hingga berbubyi telolet… Para sekumpulan anak tertawa lepas dan pak sopir tertawa meringis.



Inilah budaya unik indonesia yang menjadikanya dikenal. Suatu hal yang sangat sangat remeh dan bahkan saya sendiri tidak memikirkn aktifitas ini akan menjadi trending topic di dunia. Kuncinya satu, karena serangkaian proses telolet dilakukan dengan senang hati dan memberikan kebahagiaan maka semuanya akan menjadi luar biasa.

Lalu apa pendapat Dinas Perhubungan? Pendapat berbeda disampaikan oleh Kemenhub :

“Ya itu (fenomena “bus telolet”) menggembirakan tapi rada sedikit membuat kekacauan ya karena ada kemungkinan itu bisa terjadi kecelakaan, anak anak gitu,” tutur Menhub Budi Karya Sumadi saat ditanya tentang fenomena “bus telolet”.


Hal itu disampaikan Menhub di usai acara “Memberikan Pengarahan dan Pengukuhan Simbolik Kepala Terminal Tipe A dan Kepala UPPKB (Unit Pengelolaan dan Pengujian Kendaraan Bermotor)” di Hotel Red Top, Pecenongan, Jakarta Pusat, Rabu (21/12/2016). Karena berisiko kecelakaan dan membahayakan keselamatan itu, maka Menhub berencana melarang “bus telolet” itu.


“Jadi saya ingin memberikan semacam suatu surat edaranlah ya pada daerah supaya ini (bus telolet) dilarang,” tegas dia.

Sumber Detik.com

Polisi sudah mengambil tindakan terkait fenomena “Om Telolet Om” yang sempat mengganggu lalu lintas di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Setiap sore hari, polisi kini berjaga di daerah Ngabul, Jepara agar hobi berburu suara klakson “telolet” itu tidak mengganggu lalu lintas.

Polisi sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan setempat sejak adanya fenomena yang sempat mengganggu lalu lintas di Ngabul itu. Polisi juga menurunkan anggota di lokasi yang dilaporkan ramai dengan fenomena “bus telolet” itu. Penertiban dilakukan dan ternyata cukup berdampak pada kelancaran lalu lintas di sana.

Keberadaan polisi di lokasi fenomena tersebut ternyata mampu mengurangi kepadatan massa. Warga yang biasanya datang ramai-ramai tanpa memperdulikan kelengkapan berkendara langsung pergi setelah melihat polisi.

Pendapat para sopir? Dikutip dari tribunnews.com :

Salah seorang sopir bis pariwisata asal Jakarta, Patra mengungkapkan tren tersebut sudah ada sejak 5-6 tahun yang lalu.

“Sejak 5 sampai 6 tahun yang lalu fenomena itu sudah ada,” ceritanya saat ditemui di Taman Parkir Abu Bakar Ali Yogyakarta, Kamis (12/5/2016).



Fenomena itu biasanya banyak terjadi di wilayah Jawa Timur sebelum saat ini juga merembet ke daerah lain, di wilayah Yogyakarta sendiri diakuinya ada tapi jumlahnya tidak banyak.

Sebagai seorang sopir dirinya sudah paham apabila ada orang yang memasang ponsel berkamera ataupun sekedar memberikan tanda dengan tangan, bahkan meneriakinya.

Dirinya tidak merasa terganggu bahkan ada rasa senang karena merasa mendapat perhatian.



“Merasa senang saja tidak terganggu, senang ada yang memerhatikan,” ujarnya yang sedang membawa rombongan asal Bekasi.



Klakson dengan bunyi tolelot yang khas dan menjadi incaran para pemburu tersebut sendiri sebenarnya merupakan klakson variasi dan bukan bawaan pabrik.

“Klakson variasi harganya berkisat 1,5-2 juta rupiah,” ujar Patra.

Cerita lain yang dikutip dari Merdeka.com menunjukkan bahwa Sopir juga senang lihat para pemburu telolet gembira terutama anak anak :

Joko Sentosa (37), salah seorang supir bus jurusan Yogyakarta-Semarang, mengatakan bahwa sejak dua bulan lalu dirinya memasang klakson telolet pada kendaraannya. Sebelumnya, bus antar kota antar provinsi berwarna abu-abu tersebut hanya mengeluarkan suara klakson biasa.



“Saya pasang dua bulan yang lalu. Saya beli rangkaiannya terus saya pasang. Ya biar ramai saja suara klaksonnya. Suaranya juga lucu kok,” ujar Joko saat ditemui di Terminal Jombor, Sleman, DIY, Rabu (21/12) sore.

Joko menambahkan bahwa fenomena pemburu telolet sudah ada sejak beberapa bulan belakangan ini. Namun, baru benar-benar ramai sebulan terakhir ini.



“Dulu masih beberapa saja yang nunggu suara klakson telolet di pinggir jalan. Ya baru mulai agak banyak sekitar sebulanan ini. Biasanya anak-anak kecil sama anak muda yang minta dibunyikan klakson kalau pas bus lewat,” terang Joko.

Joko mengatakan bahwa dirinya tak keberatan membunyikan klakson saat di pinggir jalan ada rombongan anak kecil membawa handphone dan minta dibunyikan klakson. Menurutnya, dengan membunyikan klakson dia merasa anak-anak kecil itu gembira dan bahagia.


“Ya senang saja lihat anak kecil pada ketawa sambil jingkrak-jingkrak saat saya bunyikan klakson. Kalau lihat anak-anak itu jadi ingat anak saya yang di rumah. Makanya saya selalu bunyikan klakson. Anak-anak itu kelihatan bahagia banget kalau dengar suara klakson bus saya yang telolet itu,” ungkap Joko.

Senada dengan Joko, Suprapto (46), seorang pengemudi bus lainnya jurusan Yogyakarta-Semarang juga mengaku senang melihat anak-anak kecil berburu klakson. “Ya tidak apa-apa, mereka enggak minta duit ini. Cuma minta suara klakson saja. Ya, kalau lihat di jalan ada anak-anak, klakson bus pasti saya pencet,” kata Suprapto.



Meskipun demikian, Suprapto kadang merasa takut karena anak-anak kecil itu kadang tangannya melambai-lambai. Padahal kadang bus yang dikemudikannya sedang melaju dengan kencang.

“Takutnya kalau terlalu ke arah jalan bisa tersambar bis yang sedang kencang. Makanya kalau lihat ada anak-anak di pinggir jalan bawa ponsel sambil merekam, bus agak saya jauhkan dari trotoar. Biar aman,” terang Suprapto.

Bahagia itu sederhana ternyata.

Yaps, berbagai pro kontra berkaitan dengan fenomena yang viral ini. Ini juga menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat butuh hiburan, penyegar, karena beberapa bulan dan tahun terakhir selalu melihat berita berita yang membuat gerah dan gelisah. Apalagi akhir akhir ini lagi ada perang politik nyata di Sosial Media maupun dunia nyata. Apalagi acara di TV sudah dianggap tak layak dan membosankan pakai bangeeeeeetttt… Tidak mendidik pula. Akhirnya, semua tercurahkan untuk ikut meramaikan fenomena “Om Telolet Om” sebagai wujud refreshing dari beban dan kebosanan.

 meme berkaitan dengan telolet :

3A330F33E0FDB54C8C27690583FBA366

Dikirim dari Lenovo Ndeso 94 TAB 2 Android.
Kategori sama :

Artikel Terbaru :

 

Iklan

Tentang Bro Ndes 94

Seseorang yang mempunayi hobi menulis, membaca, dan mencari ilmu baru. Tak ada paksaan dalam menulis, karena menulis itu seperti mengalir. Jika terbiasa maka kita akan kecanduan. #Poko'e_Joget#
Pos ini dipublikasikan di BERITA, Opini & Fakta, sekitar dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Mohon di komentari, kritik dan saran. Yuk diskusi bareng :-) Jika komen anda masuk spam hubungi admin

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s