Pengaruh produk Cina terhadap ekonomi ASEAN terutama Indonesia

420899_500411703303754_151315772_n

Yuk kita bahas tentang perdagangan bebas Cina dan ASEAN dan pengaruhnya di Indonesia. Monggo kang.

1. BAGAIMANA JALANNYA MASALAH/LATAR BELAKANG

Dewasa ini kita mengetahui, bahwa pasar perdagangan di negara kita dibanjiri prroduk luar negeri terutama produk dari Cina setelah Asean-China Trade Agreement (ACFTA). Seperti dalanm kehidupan sehari-hari, misalnya sekarang. Handphone asal Cina telah tersebar luas di masyarakat dengan cepat karena harganya yang terjangkau oleh

rata-rata masyarakat Indonesia. Belum lagi produk Cina yang lain seperti alat-alat tulis, alat kebersihan, alat-alat komunikasi lainnya bahkan sandal sekalipun.

CINA dipastikan bergabung dengan negara-negara ASEAN dalam melakukan perdagangan antar negara atau yang lebih dikenal dengan Asean Free Trade Area (AFTA). Bagi Indonesia ini berarti memperbolehkan produk-produk Cina masuk ke Indonesia tanpa ada hambatan tarif untuk menguasai pasar domestik. Cina terkenal dengan prestasinya dalam perekonomian yang stabil, perdagangan internasional, produk yang mampu bersaing secara global dengan perusahaan-perusahaan besar kelas dunia, dan kesuksesannya menahan laju perusahaan asing di pasar lokal.

Setelah mengalami defisit dalam neraca perdagangannya pada 1980-an Cina berhasil bangkit. Neraca perdagangannya surplus sejak 1990-an. Strategi yang diambil Cina adalah dengan kebijakan ekonomi yang tepat, membangun dasar-dasar industri yang kokoh, mengandalkan faktor tenaga kerja yang lebih murah (bahkan lebih murah dari negara-negara berkembang di ASEAN) dan membuka diri terhadap persaingan global (penurunan tarif impor dari 50% pada 1980an menjadi 17% pada 1998).

Kebijakan moneter dari Cina yang mendevaluasi mata uangnya Renminbi, ditopang cadangan devisa yang kuat sebesar 2,3 Triliun US dollar pada tahun 2010 menjadikan Cina sebagai raksasa ekonomi baru di dunia. Selain itu Cina melakukan pembangunan infrastruktur sebagai pilar bagi pertumbuhan ekonominya. Misalnya, pembangunan infrastruktur pelabuhan sebagai penunjang aktivitas ekspor dan impor. Pelabuhan di Shanghai, Shenchen, Qingdao, Ningbo dan Guangzhou merupakan pelabuhan-pelabuhan tersibuk bertaraf internasional.

Dalam perdagangan internasional, khususnya dalam ekspor produk barang dagang, tahun 2008 Cina menduduki peringkat teratas setelah Jerman, dengan pangsa pasar ekspor sebesar 8,9% dari total barang-barang ekspor di seluruh dunia (International Trade Statistic, 2009).

Pasar domestik Cina sebagai pasar terbesar di dunia dengan populasi kurang lebih 2 milyar, merupakan sasaran bagi perusahaan-perusahaan global. Namun perusahaan lokal Cina sudah teruji dalam menahan gempuran dari perusahaan multinasional yang menggempur pasar lokal mereka. Sebalikannya bahkan kini Cina sudah menguasai pasar Internasional.

Sejak tahun 1990-an produk Cina telah bertransisi dari low-price dan low-quality menjadi produk untuk semua segmen pasar sehingga tidak mengherankan jika perusahaan asli Cina Baidu mampu menahan laju pertumbuhan Google sebagai mesin pencari kelas dunia di pasar internet Cina. Keberhasilan perusahaan Cina menahan ekspansi dari perusahaan multinasional membawa semangat bagi mereka untuk melakukan ekspor ke luar negeri. Hal ini didukung dengan sudah tercapainya skala ekonomis pada produk mereka.

Perusahaan Cina tidak hanya menunjukkan prestasi di pasar domestik, namun juga menunjukkan prestasi yang sama di pasar global. Sinopec, State Grid dan China National Petroleum merupakan perusahaan-perusahaan lokal Cina yang masuk dalam 25 perusahaan terbesar di dunia versi Fortune.

Dengan dimulainya AFTA pada 1 Januari 2010, otomatis perusahaan Cina akan mengekspor produknya ke pasar domestik Indonesia, mereka yang mengekspor tersebut adalah perusahaan yang telah teruji dan terbukti mampu bersaing dengan perusahaan multinasional di pasar lokal negaranya, dengan memanfaatkan jaringan, faktor produksi dan infrastruktur lokal yang tersedia.

Bagi perusahaan Cina, pasar ASEAN memiliki banyak kesamaan dengan pasar Cina yang membawa mereka pada posisi kuat untuk masuk. Perusahaan Cina telah berpengalaman dalam melayani pasar dengan pendapatan rendah, sehingga faktor penentu bagi kebanyakan konsumen adalah harga, dengan memberikan barang yang memiliki kualitas sama namun memberikan harga lebih murah dibandingkan pesaing-pesaing lokal.

Jika melihat kondisi perusahaan Cina yang telah mencapai skala ekonomis dalam produksinya, mereka telah memiliki modal yang cukup kuat sehingga tidak akan mendapatkan perlawanan berarti dari perusahaan lokal Indonesia. Kebesaran dan kekuatan Cina membuat produsen-produsen lokal ketakutan, dan lari lebih dulu sebelum menghadapi persaingan. Banyak perusahaan lokal Indonesia mengambil langkah mengurangi produksi mereka untuk mengurangi biaya produksi dan kerugian yang akan diperoleh jika produk Cina masuk ke pasar domestik Indonesia.

Namun, jika perusahaan-perusahaan lokal Indonesia cukup jeli melihat kondisi bahwa perusahaan-perusahaan Cina yang masuk ke Indonesia tersebut adalah perusahaan yang mendapatkan persaingan di pasar lokal mereka sendiri dan juga pasar ekspor di Indonesia. Ini berarti perusahaan Cina tersebut menjual produknya dengan margin yang sangat kecil.

Melawan Cina dalam kondisi seperti ini adalah dengan mengadopsi strategi mereka sendiri, perusahaan lokal Indonesia harus mampu memanfaatkan keunggulan jaringan, faktor produksi dan infrastruktur lokal yang dimiliki. Memproduksi produk pada skala ekonomis dimana biaya termurah dalam memproduksi produk harus diterapkan untuk mampu bersaing dengan memberikan barang dengan kualitas yang sama dengan produk Cina, namun dengan harga lebih murah.

Langkah ini akan meredam bahkan bisa jadi mengalahkan produk perusahaan Cina di pasar Indonesia dan membentuk dan menempa perusahaan domestik untuk mampu bersaing secara global.
Selain itu, dengan melakukan strategi ini, yang paling diuntungkan adalah konsumen Indonesia yang mendapatkan barang dengan harga murah.

Barang produksi home industri negeri China mampu menembus pasar Indonesia, ini adalah peluang yang sangat empuk bagi ekonomi mereka, Devisa RRC meningkat tajam dan berbanding terbalik dengan negara kita. Bagaimana tidak, kalau dulu di jaman pak Harto kita kebanjiran produk Jepang, semua alat rumah tangga sampai bolpen pun made in japan. Kini semua peralatan yang murah – murah made in China. Handphone china, tv china komputer china dll.

Pemerintah dianggap kebakaran jenggot akibat membanjirnya produk-produk China di pasar dalam negeri. Langkah pengamanan pasar bagi industri lokal seperti Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) oleh Kementerian Perdagangan hanya sebatas mau menunjukan kinerja saja. sudah sejak lama pelaku usaha di dalam negeri menghendaki revisi perdagangan bebas ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA). Namun sayangnya pemerintah tak menghiraukan suara pelaku industri lokal. “Kita bukan menolak ACFTA tapi kita minta direvisi saja,” Langkah pemerintah mengajak investor China untuk berinvestasi ke dalam negeri suatu hal yang sangat sulit. Menurutnya, China sebagai negara industri tahu benar apa yang menjadi kepentingannya.

Lalu bagaimana kita bisa bersaing di pasar global, apakah kita bisa meniru apa yang telah dilakukan oleh Negara China dalam meningkatkan pemberdayaan UKM usaha home industri guna meningkatkan kemakmuran rakyatnya? Bayangkan saja semua kebutuhan kita ada dibuat oleh mereka, padahal kita pun bisa melakukannya jika ada yang menyuarakan untuk membuatnya, Ada yang memberikan pengaturan untuk membuat semua jenis produk dengan home industri dan bisa dipakai sendiri maupun di ekspor, Ya Seperti yang dilakukan bangsa China tersebut.

2. SEBERAPA BESAR MASALAH TERSEBAR PADA BANGSA DAN NEGARA.

Sebulan pasca kesepakatan pemberlakuan perdagangan bebas Asean China Free Trade Agreement (ACFTA), bagaikan air bah yang menyerbu dan membanjiri secara bebas, tanpa batas. Berbagai ragam produk Made in China, kini semakin menyerbu dan membanjiri sejumlah pusat perbelanjaan hingga pasar tradisional di Ibukota.

Memang dampak ACFTA, kapal-kapal berbendera China semakin memadati Pelabuhan Tanjung Priok. Selama Januari 2010, sudah ada sekitar 24 kapal Cina yang sudah masuk sebanyak 12.000 petikemas pada Januari 2010. Produk China yang masuk kebanyakan tekstil, bahan-bahan tekstil, makanan dan minuman, buah-buahan, mainan anak-anak, sepatu dan sandal. Untuk garmen biasanya satu konteiner ukuran 20 feet berisi ratusan ribu potong pakaian atau setara dengan berat sekitar 25 ton. Dan untuk konteiner berukuran 40 feet beratnya bisa mencapai 33 ton.

Ragam produk itu, umumnya yang paling banyak dikonsumsi dan memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia. Ditambah harganya benar-benar murah, masyarakat berpenghasilan rendah pun terjangkau membelinya. Tak mengherankan jika daya beli mengalami grafik pergerakan naik. Sebut saja, tekstil, peralatan sekolah dan kantor, sepatu, sparepart rumah tangga seperti obeng, gunting, tang, mainan anak-anak, souvenir sampai tusuk gigi dan peniti kini banyak ditemui dengan mudah.

Apalagi, menjelang Imlek (Hari Raya China) sebentar lagi menghadang. Produk kebutuhan Imlek pun gampang ditemukan. Di pasar tradisional Pasar Pagi, Pasar Asemka, Pasar Gembrong, Pasar Rawa Badak, Pasar Tanah Abang hingga pusat perbelajaan seperti Mal Gajahmada, Mal Kepala Gading, WTC Mangga Dua , Mal Artha Gading nampak banyak barang-barang impor dari negeri Tirai Bambu dipajang di toko, gerai, kedai juga pedagang asongan menawarkan dengan harga yang miring.

Pantauan Kabarbisnis.com, Ahad (7/2/10), di Pasar Asemka Jakarta Pusat misalnya, produk China kini sudah menjadi bagian penjualan utama bagi pemilik toko hingga pedagang emperan. Di kawasan perdagangan ini, yang paling banyak dijual adalah peralatan sekolah, kantor, mainan anak juga souvenir dan pernik-pernik Implek.

Antok, pedagang peralatan sekolah dan kantor dari China menjelaskan barang-barang asal sebutan negara Panda itu sudah membanjiri pasar sebelum adanya ACFTA, namun kini jumlah barang produk China yang dijual semakin meningkat dan beragam. Selain murah, bahkan harganya cenderung menurun karena serbuan barang China lebih banyak.

“Umumnya pembeli lebih mementingkan harga murah dibandingkan kualitasnya. Jadi pembeli tidak mementingkan produk China atau produk lokal. yang penting murah dan terjangkau. Kalau kualitas, dianggap sama aja, pembeli masa bodoh,” tandasnya.

Para pedagang mainan anak di Pasar Gembrong, Jakarta, produk Made in China kini makin lebih marak, setelah pasar bebas dibuka. Barang mainan dari negeri Kung Fu itu juga dijual lebih murah sehingga mempengaruhi harga pasaran mainan anak dari produk lokal. Harga semakin bersaing, meski kualitas produk lokal tidak kalah dengan produk China. Namun masyarakat tetap mencari harga yang miring.

“Harga sejumlah mainan anak relatif menurun. seperti mainan mobil remote control relatif menurun hingga 10-15%, dari Rp 95.000 menjadi Rp 80.000 atau Rp 75.000 per unitnya. Begitu juga mainan anak lainnya seperti boneka pakai bateri, mobil-mobilan elektronik, pistol-pistolan, dan mainnan lainnya harganya memang jatuhnya lebih murah, apalagi beli dalam partay atau jumlah yang banyak,” ucap Wirya, pedagang mainan anak-anak di Pasar Gembrong.

Di Pasar tradisional lainnya, seperti Pasar Tanah Abang dan Pasar Rawa Badak yang menjual Batik dari China semakin membanjiri pusat perkulakan sehingga menyaingi batik Indonesia. Di Pasar Rawa Badak, banyak ditemukan batik cetak asal China yang dipajang di setiap sudut toko pedagang. Harganya juga sangat murah, rata-rata hanya sekitar Rp35 ribu-Rp 50 ribu per lembar. Sementara batik lokal paling banter harganya Rp75.000 perlembar.

Soal kualitas, bahan baku, motif dan desian batik China ya sangat jauh lah dibandingkan batik lokal yang kaya desain, kaya warna, namun sayangnya konsumen kadang tak memikirkan masalah itu, yang penting harganya murah dan terjangkau, ungkap Bu Satria, pedagang batik China di Pasar Rawa Badak.

Sementara di Mal Artha Gading, WTC Mangga Dua, Mal Gajahmada, produk China sangat gampang ditemukan. Seperti pakaian, blouse berbahan polyester saja bisa didapat dengan harga tak lebih dari Rp50 ribu. Demikian juga celana pendek ukuran sedang harga super murah seharga Rp35 ribu. Harga ini, jauh lebih murah ketimbang harga tekstil buatan lokal yang bisa mencapai Rp150 ribu per helai.

Bahkan di Mal elite Kelapa Gading juga ditemukan banyak jenis produk China. Mulai dari makanan ringan, snack, semir, jam dinding, jam tangan, pasta gigi, karpet lantai, sikat gigi bahkan tusuk gigi bermerk China banyak ditemukan. Produknya beragam. Harganya juga murah meriah. Lihat saja tusuk gigi, hanya Rp 1000 per paknya sementara buatan lokal mencapai Rp3.000 per pak.

Kekhawatiran, kecemasan pelaku bisnis dengan maraknya produk China dengan harga yang lebih murah dan tanpa memperlihatkan kualitas produknya, sudah tak bisa dielakkan lagi. Kondisi ini jelas terus menghantui pelaku bisnis, dan bila dibiarkan berlarut-larut banyak industri Indonesia terancam gulung tikar.

Karenanya kebijakan pemerintah sangat dibutuhkan, diantaranya mengalihkan kapal dari China yang masuk tidak melalui pelabuhan utama namun dialihkan ke pelabuhan kecil di wilayah Indonesia Bagian Timur, tujuannya pelabuhan itu semakin ramai, tingkat pendapatan masyarakat sekitar meningkat dan harga barang semakin mahal untuk dikirim lagi ke pusat perekonomian di Jakarta dan sekitarnya.

Juga antisipasi lain yang perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah. Yang tak hanya bergelut ngurusi di dunia politik saja, namun bagaimana memikirkan dampak perdagangan bebas ACFTA yang sudah mengancam dunia industri, mengancam tenaga kerja, mengancam perekonomian.

Dan yang paling penting, bagaimana pelaku bisnis Indonesia bisa bermain lebih hebat lagi di pasar internasional. Ini butuh uluran dan pemikiran pemerintah

3. MENGAPA MASALAH HARUS DITANGANI PEMERINTAH DAN HARUSKAH SESEORANG BERTANGGGUNG JAWAB MEMECAHKANNYA?

Kedatangan produk impor asal Negeri Tirai Bambu Cina memang fantastis. Dengan cepat setelah diberlakukannya ACFTA. Indonesia dan negara ASEAN lainnya dibanjiri produk-produk impor asal Cina tersebut. Namun, dibalik banyaknya produk Cina tersebut yang diimpor telah mengakibatkan dampak negatif yang sangatv memprihatinkan dan harusb segera di atasi oleh pemerintah.

– Produk Cina kalahkan Produk Lokal.

Serbuan produk impor dari China telah terbukti menghantam industri dalam negeri. Hasil survei Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyimpulkan, pemberlakuan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) telah menciutkan pasar produksi produk dalam negeri.

Dirjen Kerjasama Industri Internasional Agus Tjahyana mengatakan, hasil survei yang dilakukan Kemenperin menunjukkan, industri dalam negeri mengalami penurunan penjualan, merosotnya keuntungan hingga pengurangan tenaga kerja. “Ini survei di 11 kota besar,” kata Agus dalam konferensi pers tentang perkembangan pelaksanaan ACFTA, Rabu (23/3/2011).

Responden survei tersebut meliputi 2.738 penjual, 3.521 pembeli dan 724 perusahaan. Mereka tersebar di berbagai kota. Yaitu, Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Makassar dan Manado.

Agus menuturkan, hasil survei tersebut juga memotret perilaku pedagang yang lebih suka menjual produk buatan China daripada menjual karya anak negeri. “Ini ditengarai sebagai penyebab penurunan produksi domestik,” ujar Agus.

Namun, dari sisi kualitas, survei itu menunjukkan, kualitas produk dalam negeri lebih unggul dibandingkan produk China. Menurut Agus, ini karena produk dalam negeri menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Sementara banyak produk China yang tidak memiliki SNI walaupun kaya inovasi dan kreasi.

Berdasar data Ditjen Bea Cukai, impor produk China meningkat 45,9 persen di 2010. Sedangkan ekspor Indonesia ke China hanya naik 36,5 persen di tahun yang sama. Impor terbanyak dari China adalah mainan yang menguasai 73 persen total impor mainan. Setelah itu furnitur dengan pangsa 54 persen, elektronika 34 persen, logam 18 persen, permesinan 22 persen, dan tekstil produk tekstil (TPT) 34 persen.

Menurut Agus, Kemenperin sudah melakukan pemantauan untuk menghindari keterpurukan industri dalam negeri akibat ACFTA. Jika perlu, tandasnya, Indonesia bisa menggunakan Article 6 kesepakatan ACFTA berupa modifikasi hasil kesepakatan.

– Infrastruktur tertinggal

Sofjan Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mengatakan, kekalahan produk dalam negeri karena infrastruktur yang minim. Seperti, pasokan gas dan listrik yang seret membuat produksi jadi kerdil. Sementara konsumsi dalam negeri meningkat. “Pasar yang meningkat itulah yang diisi produk China,” ujar Sofjan kepada KONTAN.

Ia menuding pemerintah memperlonggar aturan impor barang jadi dan mempersulit impor barang modal. Alhasil, pengusaha banyak memilih menjadi pedagang ketimbang memproduksi sendiri.

– Banyak Industri bakal gulung tikar

Jelang tutup tahun 2009, Apindo melontarkan pernyataan mengejutkan. Asosiasi Pengusaha Indonesia itu menyatakan, pada 2010, banyak industri manufaktur tutup dan jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan bakal mencapai 7,5 juta. Itu berarti, angka penganggur terbuka yang saat ini sekitar 8,9 juta akan membengkak menjadi 17,8 juta orang. Perdagangan bebas ASEAN- Cina bakal timbulkan banyak masalah sosial

Lonjakan angka pengangguran itu disebabkan oleh serbuan produk RRT. Mulai 1 Januari 2010, era perdagangan bebas Asean-China atau yang lazim disebut Asean-China Free Trade Area (AC-FTA) diberlakukan.

Tak satu pun industriawan Indonesia yang senang dengan AC-FTA. Mereka tahu persis, Indonesia, sebagaimana kebanyakan negara Asean, tidak akan mampu mengungguli produk RRT. Sebelum memasuki AC-FTA pun, negara-negara Asean sudah kebanjiran produk RRT. Kini, dengan bea masuk nol persen, produk RRT akan semakin mencengkeram pasar domestik. Industriawan nasional pun menangis karena PHK tak terelakkan.

Para pedagang dan konsumen mungkin tidak mempermasalahkan perkembangan ini. Bagi pedagang, yang penting adalah margin laba yang besar. Sebagian dari mereka sebelumnya adalah pemilik pabrik tekstil dan garmen. Para pedagang itu akhirnya banting setir karena produk mereka tidak bisa bersaing dengan produk RRT. Harga produk RRT jauh lebih murah dengan kualitas yang tidak kalah, bahkan lebih bagus.

Untuk produk tertentu, harga barang jadi produk RRT lebih murah dibanding bahan baku produk Indonesia. Jika sudah demikian, untuk apalagi mempertahankan pabrik manufaktur di Indonesia? RRT setidaknya, unggul dalam sepuluh produk, yaitu tekstil dan garmen, serta alas kaki, elektronik dan listrik, produk dari besi dan baja, peralatan medis dan optik, mebel, produk kimia, alat transportasi, produk perlengkapan generator, bahan bakar mineral, dan mainan anak-anak. Produk-produk ini justru menjadi andalan industri manufaktur Indonesia.

Konsumen Indonesia mungkin tidak perduli asal-usul produk, termasuk membanjirnya produk RRT. Mereka bahkan diuntungkan oleh produk dari negeri Tirai Bambu itu. Saat berbelanja, konsumen umumnya hanya melihat mutu dan harga. Sebagian besar konsumen Indonesia, yang memang berpenghasilan rendah, malah hanya mempertimbangkan harga. Mereka tidak terlalu sensitif terhadap kualitas, apalagi mempertanyakan produk lokal atau asing. Produk RRT yang murah justru menolong masyarakat berdaya beli rendah.

Tapi, untuk kepentingan jangka panjang, kondisi ini tidak boleh dibiarkan. Indonesia, negeri dengan penduduk 230 juta ini, tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk asing. Dari sisi jumlah penduduk, Indonesia menempati peringkat keempat setelah RRT (1,3 miliar), India (1,1 miliar), dan AS (340 juta). Sebagaimana RRT, Indonesia juga harus bisa memanfaatkan jumlah penduduk yang besar untuk menggapai kemajuan.

Yang mengherankan, pemerintah justru tidak sedikit pun menunjukkan kekhawatiran terhadap membanjirnya produk RRT. Seakan dengan mengikuti AC-FTA, tidak akan ada masalah dengan Indonesia. Para menteri dan pejabat pemerintah lebih banyak bicara teori bahwa Indonesia harus bisa bersaing di pasar global. Indonesia tidak boleh takut menghadapi produk negara lain, termasuk produk RRT.

Pemerintah lupa bahwa persaingan itu ada syaratnya. RRT tidak membuka pasarnya ketika industri manufakturnya belum kuat. RRT memproteksi produk dalam negerinya selama beberapa dekade. Setelah industri manufakturnya kokoh dalam dekade terakhir, RRT berani membuka pasar. Saat ini, negeri manakah yang mampu menahan produk RRT? AS pun tidak mampu. Begitu pula negara-negara Eropa. Produk RRT sangat unggul dalam harga. Meski mutunya tidak hebat, konsumen tetap tergiur karena kualitas produk RRT tidak jelek dan mutunya terus mengalami perbaikan.

Ekspor RRT tahun 2008 mencapai US$ 1,4 triliun, sedang impornya hanya 1,1 miliar atau meraih surplus perdagangan US$ 295 miliar. Tidak heran jika cadangan devisa RRT terus meningkat dan kini mencapai US$ 2,3 triliun. Untuk lingkup Asean, RRT surplus. Pada tahuhn 2008, Asean mengekspor US$ 85,6 miliar dan mengimpor US$ 107 miliar. Indonesia pun sudah keok. Pada 2008, ekspor Indonesia ke RRT sebesar US$ 11,6 miliar, sedang impor dari RRT sebesar US$ 15,2 miliar. Mulai tahun ini, defisit perdagangan RI-RRT bakal meningkat tajam.

Pemerintah terkesan menerapkan liberalisasi ekonomi ugal-ugalan. Liberalisasi diterapkan tanpa penelitian, evaluasi, dan persiapan. Pemerintah tak pelak hanya ikut arus agar kelihatan gagah di forum internasional meski industri manufaktur dalam negeri babak belur dan pengangguran terbuka bakal meledak. Hingga memasuki tahun keenam pemerintahan SBY, kita belum melihat upaya serius untuk memantapkan struktur industri dan memperkuat fondasi ekonomi.

– Batik murah Cina vs Nasionalisme Batik

Baru saja pengrajin batik tanah air menikmati ‘bulan madu’ pasca pengakuan UNESCO atas batik sebagai warisan budaya dunia. Kini, batik lokal justru terancam.

Pemberlakukan perjanjian perdagangan bebas (FTA) ASEAN-China sejak Januari 2010 lalu, kini sudah mulai berdampak.

Membanjirnya produk tekstil batik China membuat produk batik printing atau batik cetak di Solo terjepit. Bukan tak mungkin ke depan, produk tekstil China juga mengancam produk batik cap hingga ‘masterpiece’ batik tulis.

“Saat ini yang terkena memang bukan perajin batik cap atau tulis tetapi industri batik printing. Biasanya yang menggarap batik seperti itu perusahaan tekstil bukan perajin kecil,” kata Ketua paguyuban perajin batik di Kampung Wisata Batik Kauman Solo, Gunawan Setiawan kepada VIVAnews, Minggu 18 Januari 2010.

Produk batik China, disebutkan Gunawan memiliki keunggulan dibanding produk lokal, yakni harganya yang murah.

“Para pembeli itu sudah tidak memandang rasa nasionalisme. Yang terpenting bagi mereka harganya lebih murah,” tegasnya.

Sementara itu, ketua paguyuban perajin batik di Kampoeng Batik Laweyan Solo, Alpha Febela mengamini apabila produk batik printing yang paling terkena dampak dibukanya keran perdagangan bebas dengan China.

“Dalam jangka pendek ini produk batik China berupa batik printing. Jadi, bisa dikatakan batik China saat ini mengambil segmentasi pasar batik printing buatan lokal,” ujar dia.

Membanjirnya produk China, kata Alpha, hanya bisa dibendung dengan semangat nasionalisme pembeli. Kecintaan terhadap batik lokal bisa jadi penyelamat.

Selain itu, tambah dia, para pengrajin harus memiliki kreatifitas dan desain yang lebih kreatif. Dengan begitu, batik printing lokal tetap mampu bersaing ditengah gempuran batik impor China.

“Yah, kelemahan kita sebagai perajin batik sejak awal tidak dididik berjiwa wirausaha. Padahal, seharusnya memang harus seperti itu supaya bertahan. Sedangkan untuk nasionalisme, supaya masyarakat tetap mencintai batik Solo juga butuh proses,” kata dia.

Mengenai potensi batik cap dan tulis, yang hingga saat ini masih aman, juga bakal menemui nasib sama.

Sebab, bisa jadi tekstil China akan masuk ke Solo dalam bentuk kerjasama UKM dan mau menerima order kelas menengah ke bawah.

“Nah, itulah yang paling merepotkan. Hancurnya ukurian Jepara juga seperti itu, karena banyak asing yang masuk,” papar Alpha

Bahkan, Alpha sedikit membocorkan sejak awal Januari hingga hari ini omzet penjualan toko batik yang ada di Kampoeng Batik Laweya susut sekitar 20-30 persen. “Antara sebelum ada perdagangan bebas dan setelahnya ada sedikit dampak penurunan,” keluh Alpha.

  • Indonesia Punya Pasar, China Punya Produk

China sebagai raksasa ekonomi dunia sudah tak terbantahkan lagi geliatnya di bidang perdagangan mampu menusuk sampai ke Amerika Serikat membuat negeri paman sam ini kewalahan. Sementara kiprahnya di Asean semakin kuat terutama setelah adanya Perjanjian Perdagangan Bebas Asean – China yang disebut ACFTA.

Dampak negative atas perdagangan bebas ACFTA sudah dirasakan oleh Indonesia yang punya penduduk 235 juta menjadi sasaran empuk peluang pasar China. Perhatikan dipasar tanah abang pasar tekstil sudah dibanjiri tekstil asal China termasuk batik yang nota bene kepunyaan Indonesi di produksi di China di pasarkan di tanah abang dengan harga yang lebih murah. Kemudian masuklah ke super atau hyper market periksa konter mainan anak anak mayoritas juga adalah produk dengan tulisan made in china. Teruslah pergi ke toko furniture kita akan temukan bergagai macam furniture buatan China, demikian juga konter produk electronik dan permesinan, dari semua itu peningkatan yang paling menyolok produk china ke Indonesia adalah produk makanan dan minuman serta alas kaki.

Fenomina masuknya produk China secara besar besar besaran ke Indonesia dibuktikan dengan data neraca perdagangan Indonesia – China akhir 2010 dimana defisit di pihak Indonesia. Nilai ekspor Indonesia ke China 49,2 miliar dollar AS, sementara nilai impor dari China sebesar 52 miliar dollar AS (Koran Jakarta, tulisan Achmad Maulani 8 Juni 2011).

Dampak buruk atas membanjirnya produk China terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) sudah dirasakan. Inilah sebenarnya pokok masalah yang banyak diserukan dan dikhawatirkan berbagai kalangan, terutama kalangan yang sangat merasakan dampak langsung dari perjanjian ACFTA. Bayangkan saja
bila tahun 2004 tarif bea masuk ke Indonesia dalam skema ACFTA masih 9,9 persen, maka semenjak 2010 turun drastis menjadi 2,9 persen. Tak pelak, produk-produk China kini semakin merajalela dipasar Indonesia dan merambah seluruh lini.

Dalam situasi persaingan yang begitu ketat celakanya pemerintah belum mempunyai data yang akurat tentang pemetaan kebutuhan pasar China. Data yang dimiliki Indonesai selama ini dari pihak China tidak akurat sehingga pemetaan kebutuhan pasar China-Indonesia sangat minim. Akibatnya, pelaku usaha nasional masih harus meraba-raba karakteristik dan kebutuhan pasar China. Hal ini jelas mempersulit Indonesia untuk membuat kebijakan yang tepat.

Sekarang apa mau dikata yang terjadi terjadilah sudah China yang punya produk dan Indonesia yang punya pasar kenyataannya China meraup pangsa pasar kita karena produk kita tidak mampu bersaing dengan China akibat kebijakan pemerintah tidak berpihak kepada pelaku bisnis khususnya usaha menengah dan kecil (UKM)..

4. ADAKAH KEBIJAKAN TENTANG MASALAH TERSEBUT?

Kementerian BUMN mendorong pemerintah menerapkan penggunaan label Standar Nasional Industri (SNI) terhadap produk China guna melindungi perusahaan lokal sekaligus memproteksi konsumen, terkait pelaksanaan ASEAN -China Free Trade Agreement CFTA).

“SNI penting diterapkan untuk mengetahui apakah barang yang masuk ke Indonesia kualitasnya sama dengan produksi sejenis dalam negeri,” kata Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu, tadi sore.

Menurut Said, sejauh ini dampak pelaksanaan ACFTA dalam jangka pendek terhadap kinerja perusahaan perusahaan milik negara belum terasa.

“Akan tetapi, kami terus mempelajarinya dan segera memberi masukan kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian untuk mengambil langkah konkret menghadapi persoalan ,” katanya.

Ia menjelaskan, secara industri pelaksanaan ACFTA memberikan dampak besar terhadap pasar di dalam negeri karena akan dibanjiri produk-produk yang beragam kualitas dan harganya.

Satu jenis produk bisa memiliki hingga lima kualitas, dengan harga bervariasi yang bersaing dengan produk sejenis dalam negeri.

“Dari tampang sama (produk), tapi kualitasnya rendah. Dengan harga yang ditawarkan yang lebih murah bisa saja produk asal China tersebut lebih laku,” tegasnya.

Untuk itu diutarakan Said, agar lebih adil maka penerapan SNI diterapkan tidak saja untuk produk dari luar negeri tetapi juga produk lokal agar telihat jelas bahwa yang dibeli para konsumen bukan merupakan “sampah”.

Sesungguhnya, lanjutnya, masalah yang dihadapi adalah bahwa produk asal China yang masuk ke dalam negeri tidak punya standar.

“Kalau standarnya sama , maka kita yakin mampu bersaing. Yang manufaktur agak berat, tapi kalau produk rumahan masih beranilah,” tegas Said.

Menurutnya, secara keseluruhan penerapan ACFTA bisa memberi dampak negatif karena mengancam sektor tertentu, namun juga berdampak positif terhadap BUMN karena bisa disiasati dengan efisiensi terhadap biaya-biaya produksi, sehingga menciptakan peluang.

Said mencontohkan, motor China yang sempat menjadi fenomenal masuk ke Indonesia karena dijual dengan harga murah, belakangan tidak lagi laku atau bahkan hilang dari pasar karena konsumen otomotif sudah lebih jeli terhadap kualitas produk.

Untuk itulah diutarakan Said, penting bagi pemerintah untuk mengedepankan kampanye produk dalam negeri, dengan catatan bahwa yang diproduksi adalah barang berkualitas.

Ia mengakui, produk baja impor asal China banyak beredar di pasar, namun dengan kualitas produk PT Krakatau Steel (Persero) yang lebih terjamin, membuat secara perlahan baja impor tersebut akan ditinggalkan.

Untuk itu katanya, sebagai antisipasi pemberlakuan ACFTA, Kementerian BUMN mendorong perusahaan” pelat merah “menghasilkan barang/jasa berkualitas sehingga menjadi pionir di setiap industri.

“Pemerintah juga memastikan ketersediaan BBM, gas, dan energi listrik secara berkesinambungan untuk mendukung daya saing industri di dalam negeri,” pungkasnya.

a. ADAKAH PERBEDAAN PENDAPAT SIAPA ORGANISASI YANG BERPIHAK PADA MASALAH INI.

Tidak ada perbedaan pendapat. Semua sepakat bahwa impor Produk Cina hanya akan memperburuk ekonomi Indonesia. Kenapa? Produk-produk lokal yang kalah bersaing dan tak mampu melanjutkan usahanya akan gulung tikar. Sekarang, banyak masyarakat yang lebih memilih menjadi pedagang ketimbang memproduksi barang sendiri. Ironis bukan?

Produk-produk Cina yang murah menjadi faktor utama yang harus segera diselesaikan. Pemerintah diharapkan dapat membuat kebijakan-kebijakan yang memihak para pengusaha produk lokal agar mereka dapat bersaing secara ketat dan mengunggulkan kualitas.

b. PADA TINGKAT LEMBAGA PEMERINTAH APA YANG BERTANGGUNG JAWAB TENTANG MASALAH INI?

Mungkin BUMN. Sebagai perusahaan yang disokong pemerintah. Harusnya bisa mengatasi permasalahan ini. Namun, dari semua itu. Yang paling penting adalah bagaimana mengembangkan UKM(Usaha Kecil menengah) agar tak tenggelam dari persaingan yang makin lama makin ketat.

Kini sudah banyak didirikan Bank Perkreditan Rakyat dan PNPM mandiri yang disokong pemerintah untuk membantu para pengusaha UKM agar mampu bersaing dan menciptakan produk-produk yang berkualitas dan bermutu tinggi.

#Salam Ndeso Bojonegoro.

( dari artikel alwas blog di blogspot )

Tentang Bro Ndes 94

Seseorang yang mempunayi hobi menulis, membaca, dan mencari ilmu baru. Tak ada paksaan dalam menulis, karena menulis itu seperti mengalir. Jika terbiasa maka kita akan kecanduan. #Poko'e_Joget#
Pos ini dipublikasikan di Materi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Pengaruh produk Cina terhadap ekonomi ASEAN terutama Indonesia

  1. basuki berkata:

    kalau penghasilan tinggi ngapain beli produk cina

    Suka

  2. ari berkata:

    ijin nyimak gan….

    Suka

Mohon di komentari, kritik dan saran. Yuk diskusi bareng :-) Jika komen anda masuk spam hubungi admin

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.